Stasiun Garmisch-Partenkirchen, Jerman Sembari menunggu kereta lokal tiba tiga menit lagi. kau mulai berkisah tentang resah yang menghinggap-hinggapi hati. Tentang rasa yang perlahan-lahan mati. Dan tentang cinta yang tiada lagi disini. Sejurus kemudian memberi senyum. Senyum yang bermakna : "Hey tenanglah. aku takkan mencintaimu. Tapi setelah ini, diantara peron dengan bangku-bangku sandarnya, diantara gerbong-gerbong kereta yang terisi penuh ataupun yang lengang, akan hanya ada satu hal yang kamu ingat. Aku!" Aku bertanya (juga dalam senyum): "sampai kapan?" "sampai kata cinta dalam ingatanmu tiada" "Sial, saya pergi" Mereka berpisah, tapi sayang sebongkah hatinya telah tercecer di tempat itu, tertinggal, selamanya. Lengang, U-Bahn (kereta bawah tanah), Munchen Stasiun Bad Goisern, Desa Kecil di area Salzkammergut, Austria
Sudut kota Munchen, Jerman Akhir-akhir ini saya sering melihat seseorang men- judge apa yang di perbuat orang lain dengan prasangaka yang buruk tanpa ada fakta yang jelas dan hanya menebak-nebak apa yang ada di hatinya. seseorang kadang dituduh pencitraanlah, moduslah, cari perhatian lah atau tuduhan buruk lainnya yang sebetulnya itu urusan hati. dan yang perlu kita ketahui adalah : setiap manusia pada dasarnya tidak akan betul-betul tau apa yang dilakukan manusia lainnya. lebih dari itu manusia juga tidak akan pernah tau apa yang ada di hati setiap manusia lainnya ketika dia melakukan sesuatu. engga akan pernah. untuk itu kita di ajarkan berprasangka baik. khusnudzan , positive thinking terhadap orang lain. kita harus tetap begitu hingga suatu keburukan telah nampak nyata. bukan lagi dalam bentuk prasangka-prasangka terhadap niat dari perbuatan seseorang yang belum ada buktinya. maka dahulukanlah prasangka baik itu.
Merayap Malam mencoba bercerita dengan lamban Senyap Bercerita dengan angin dan gelap Bertahun lama menyampaikan kisah Dari abad ke abad menuliskan sejarah Adakah yang belajar darinya ? dari angin dan gelapnya. Tentang angin dan gelap? Untuk apa? Terkadang cuaca tak memberi isyarat Sehingga manusia hanya akan paham saat ia terseok sakit Karena apa? Karena tak pandai akan bahasa dunia. Kamu, aku, terus menerus berputar bukan dalam lingkaran Tapi dalam ruang empat sisi yang akan membuat tulang patah saat kita tersudut Sudahlah, hari mulai malam Padamkan saja keingintahuan itu Semoga besok masih ada pertanyaan Hingga nanti bosan berkata “mengapa”. iya tiada gunanya toh esok kita akan kembali kepada hari yang biasa. pada sinar matahari yang teriknya sama seperti yang kita rasa hari ini dan kemarin. tetapi jodoh dari pertanyaan adalah sebuah jawaban meski jawaban itu kadang lelah sekali di tunggu. lelah sekali. tapi biarlah biar ...
Comments
Post a Comment