Disekitaran Anak Sungai Cikapundung

“ Setiap orang pasti peduli akan kebersihan dirinya sendiri tapi tidak semua orang peduli akan kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekitarnya”
 pesan ini di sampaikan ketua YPM salman dalam di salah satu usrah setiap hari sabtu saat saya masih menjadi anggota asrama salman.

Saya mencoba memahami pesan ini dan mencoba melihat buktinya di kehidupan sehari-hari. Pembicara menyampaikan bahwa contoh kasus ini misalnya suatu pedagang kaki lima di trotoar sebelum berdagang menjual dagangannya dia akan membersihkan area tempat berjualannya hingga bersih. namun dia menyapu kotoran tersebut hanya keluar area berjualannya. Artinya jika ada penjual yag ada di sampingnya yang ingin berjualan, mereka perlu membersihkan lagi area sebelahnya dan begitu seterusnya.  Atau ketika seseorang membawa makanan kemasan di dalam angkot. Kita  pasti tidak akan betah dengan sampah yang ada padanya kemudian sebagian dari kita membuangnya di angkot tersebut. Padahal hal itu membuat angkot menjadi kotor meskipun kita terbebas dari sampah dan menjadi bersih. hal ini menunjukan bahwa seseorang peduli dengan kebersihan dan kenyamanan dirinya namun tidak peduli dengan kebersihan dan kenyamanan orang lain di lingkungan sekitarnya. Ini merupakan salah satu penyakit sosial yang juga menjadi masalah negeri tercinta ini.

Contoh kasus ini saya alami setelah saya melihat langsung salah satu anak sungai cikapundung di wilayah taman hewan. Lokasi ini memang bukan menjadi jalur favorit saya menuju kampus sehingga saya baru menyadari dan mengetahuinya baru-baru Ini. Di anak sungai cikapundung ini terjadi penumpukan sampah akibat aliran permukaan airnya di tahan oleh pipa sehingga sampah-sampah dari bagian utara tidak mengalir dan tertahan disitu dalam waktu yang lama. Ironisnya di bagian selatan sungai itu sekitar panjang lima meter dan lebar 2/3 aliran sungai di pakai untuk tempat pemancingan.  Sehingga seakan akan sampah itu sengaja di tahan agar tumpukan sampah itu tidak menyebar ke area pemancingan. Ironisnya wilayah tempat menahan sampah ini adalah wilayah tempat berkumpul warga dan terdapat dua pedagang makanan persis di tepinya. Bau dan pemandangan yang tidak enak selalu terasa setiap kali melewati wilayah tersebut. Anehnya warga dibantaran sungai tempat sampah itu tertahan tetap merasa nyaman dengan kondisi itu. Bercengkrama, ngobrol, makan, berjualan di tempat itu. Entahlah apakah ada kesadaran dari mereka atau tidak untuk menyelesaikan masalah di lingkungannya.

Sampah-sampah itu biasanya akan hilang ketika hujan turun cukup deras dan membuat volume air meninggi kemudian sampahnya terbawa ke sungai cikapundung. Artinya sampah dari aliran anak sungai cikapundung itu tidak di kelola dan malah menambah jumlah sampah di sungai cikapundung. Saya pernah bertanya tentang kejadian ini kepada salah seorang anak muda warga sekitar anak sungai. Menurutnya kejadian ini telah di ketahui ketua RT namun pemancingan di sungai ini tidak bisa di hentikan karena suami sang ketua juga turut serta di dalamnya. Kesadaran warga sekitar akan penumpukan sampah ini sangat kurang dan cenderung tidak peduli.

Dari kejadian nyata ini saya intinya hanya ingin menyampaikan bahwa pernyataan ketua YPM di awal tadi ada benarnya. Bahwa kita sangat peduli dengan kebersihan diri kita sendiri seperti yang di tunjukan dengan mengantisipasi sampah agar tidak masuk wilayah pemancingan. Namun, kita tidak peduli akan kondisi sekitar kita yang terkena dampak dari perbuatan kita seperti yang terjadi pada warga bantaran sungai bagian lainnya yang merasakan bau dan pemandangan yang tidak enak serta lingkungan hidup yang buruk. Perbuatan kita mencintai sesuatu berdampak buruk pada yang lain karena kita mengabaikan kepentingan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Tidak adanya empati antar warga ini merupakan salah satu masalah yang perlu di sikapi dengan serius.  Ini adalah salah satu sifat egoism dan apatis yang akhir-akhir ini banyak di angkat didalam kondisi masyarakat Indonesia di perkotaan. Disisi lain, pendidikan akan pentingnya pengelolaan sampah dan menjaga kebarsihan lingkungan juga nampaknya belum diketahui oleh seluruh elemen masyarakat. Sehingga kepedulian mereka terhadap hal-hal tersebut sangat kurang. Untuk itu perlu adanya sosialisasi dalam berbagi bentuk kegiatan nyata untuk mengedukasi warga tentang betapa pentingnya mengelola sampah dan menjaga lingkungan hidup.


Untuk kita anak muda yang terdidik dan telah mengerti pentingnya hal-hal tersebut. Ada baiknya kita menunjukannya dengan sikap dan mengaplikasikan pengetahuan yang kita telah dapatkan untuk memberi contoh pada warga sekitar tentang hal-hal tersebut. Contoh-contoh baik yang kecil jika di lakukan bersama-sama dan kontinu akan memberikan pengaruh yang besar pada kebiasaan warga yang melihat prilaku itu. Dengan gerakan yang sederhana kita bisa membantu mewujudkan ini, mewujudkan bandung yang lebih bersih dengan memulainya dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari mulai saat ini.

Comments

Popular posts from this blog

STASIUN

akihir-akhir ini

Tentang Malam