SAYANG YANG ANEH

Setahun Kurang sepuluh hari saya tidak menulis. Banyak sebenernya yang ingin saya ceritakan tapi entahlah susah sekali memulainya. dan ada satu hal yang harusnya saya tulis sejak lama. Yaitu Tentang jepang. ya pertengahan tahun 2015 saya mendapat kesempatan selama 20 hari untuk tinggal disana. Dan sejujurnya saya punya mimpi dari awal masuk kuliah di ITB bahwa saya setidaknya ingin mendatangi dua dari tiga Negara/benua yang teknologinya maju yaitu USA, Eropa, dan Jepang. dua nama terakhir ternyata bisa didatangi sebelum lulus, tapi entahlah amerika, mungkin nanti.
Menunggu Bus jemputan di Komatsu, kota kecil yang sepi

Tapi setiap kali saya ingin mulai menulis, saya dihantui rasa sayang. Sayang disini bukan sayang cinta tapi sayang yang satunya lagi. Yaitu sayang yang dalam KBBI artinya kasihan, menyesal, dan tidak ikhlas. Saya juga tidak tahu kenapa. Padahal selama disana semua berjalan dengan baik. disana saya bertemu dengan pak khoirul anwar, penemu 4G LTE, yang kebanyakan bertemu dalam suasana santai selepas shalat tarawih atau shalat wajib berjamaah. Disana juga saya untuk pertama kalinya “terbang” dengan berparalayang. Selain itu juga bisa merasakan “pesawat daratnya” jepang ,shinkansen, meskipun hanya sekitar 20 menit. Dari sisi keilmuan yang menjadi inti kedatangan saya kesana. Saya belajar sesuatu yang baru, namanya quantum monteqarlo (QMC) di lab yang masih menggunakan pendekatan ini dalam riset-risetnya. Juga ditunjukan supercomputer kampus berkemampuan “wah” baik dari perusahaan supercomputer ternama ataupun yang mereka rakit sendiri. Kamu mau belajar apapun tentang teknologi semuanya ada di  Negara ini, Men. Tinggal modalnya kemampuan dan kemauan.

JAIST Supercomputer Facilities
Pemandangan Dari Balkon Kamar
Ruang kerja Anggota Lab. Maezono Sensei
JAIST Campus

Dari sisi pertemanan lebih seru lagi. Disini saya di pertemukan setidaknya kawan dari empat Negara  berbeda di kegiatan yang disebut Sakura Science Internship Program ini. yaitu dari Indonesia, Malaysia, Thailand , dan India dengan fasilitator dari Jepang. diluar pertukaran pelajar saya bertemu dengan JMC yang merupakan singkatan dari JAIST Muslim Circle. Komunitas kecil muslim di kampus tempat saya melakukan kegiatan. Anggota aktifnya hanya sekitar 50 orang. Jika saya melaksanakan shalat tarawih atau shalat wajib berjamaah biasanya laki-lakinya tidak lebih dari sepuluh orang. makanya kami sangat dekat satu sama lain. hingga ketika saya pernah tidak ikut shalat berjamaah dan tarawih selama dua hari berturut-turut karena satu dan lain hal pak khoirul dan ketua JMC-nya langsung menanyakan kepada saya prihal ke absenan saya di shalat berjamaah. Kekeluargaan sangat terasa dikomunitas ini. Peralatan makan saya disana mulai dari piring, gelas, sendok, hingga tirai jendela, gosokan, dan alat cuci piring semua diberi pinjam oleh anggota JMC ini. Saya juga tetap mendapat makanan khas Indonesia ketika lebaran dari mereka
Sakura Science Internship Program
Berdiri dari kiri : Rafia (India), Saya, Kaew (Thailand), Afiq & Fizo (Malaysia), Vikas (India), Silmi (Indonesia), mayank (India), fahrana (Malaysia),  Piyush (Malaysia)
Bawah : Maezono Sensei, Hongo Sensei, Ichiba (Japan)
Momen Buka Puasa Bersama di Ruang Makan Lab.
World Cultural Understanding Event
Membahas tentang Islam yang dihadiri oleh Muslim dan non-Muslim di JAIST

Salah Satu Mushalla di JAIST dan anggota JMC

Belum lagi saya mengunjungi kota kanazawa. Dimana saya bertemu perhimpunan mahasiswa muslim yang jumlahnya lebih besar dan punya masjid sendiri di dekat universitas kanazawa. Pernah ikut itikaf satu malam disana dan saya bertemu dengan muslim dari berbagai Negara disana. Selain itu juga bertemu dengan kawan seangkatan saya dari teknik fisika yang sedang exchange selama setahun di Kanazawa. Mengelilingi kota dengan budaya jepang yang khas mulai dari kastil hingga ke taman kotanya. Bahkan sampai ke hutan kota hingga menjelang maghrib di bulan ramadhan.
Kanazawa Castle
Masjid Umar Bin Al-Khattab, Kanazawa
Ninja Village, Kanazawa

Geisha District, Kanazawa

Terakhir sebelum pulang saya datang sendirian ke Kyoto karena kawan-kawan exchange saya memilih untuk menghabiskan satu hari sisa di Osaka. Di kota ini saya di temani kawan saya dari satu fakultas yang sama namun pindah di tahun kedua ke Kyoto university karena mendapatkan beasiswa disana. Kyoto lebih “wah” lagi dalam urusan budaya jepang dan memang kota ini terkenal dengan jepang yang masih asli. Malam hari sebelum pulang saya menyempatkan makan sushi di restoran yang murah dan enak. Sebelumnya saya hanya beli sushi setengah harga di malam hari di mini market demi menjaga saldo uang tetap terjaga hingga hari terakhir keberadaan saya di jepang.

Fushimi Inari dan Pakaian Tradisional Jepang

Fushimi Inari, Kyoto
Kiyomizu Dera Tample, kyoto
Dari dua puluh hari yang luar biasa ini entah kenapa saya selalu merasa sayang jika ingat Jepang. entahlah, kadang saya kira ini karena waktu yang singkat sehingga belum cukup memahami tentang Jepang, atau mungkin karena performa saya yang kurang maksimal disana meskipun sensei bilang puas dengan kinerja saya, atau mungkin alasan-alasan lain yang belum saya ketahui mengapa. Mungkin saya harus kembali kesana dalam waktu yang lebih lama untuk mengetahui jawabannya. Ya, saya harus kembali untuk mendapat jawaban. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

STASIUN

akihir-akhir ini

Tentang Malam