ANGAN YANG MENGGANGGU

Saya mengerti, pada dasarnya berandai-andai itu engga baik. Bikin kita engga bersyukur dan bersedih. Seperti kata ulama yang sekarang lagi dikasuskan ceramahnya :"setan itu membisiki manusia dengan dua hal: kesedihan atas masa lalu yang telah dilewati dan ketakutan/kekhawatiran akan masa depan yang belum pasti terjadi".

Fikiran saya bukan soal andai ini terjadi dan andai itu tidak terjadi, Tetapi andai kita mengabaikan alasan-alasan yang menghiasi banyak hal dihidup kita. Alasan-alasan yang menjadikan sesuatu yang kita harapkan tidak lagi kita kejar. Coba kita inget-inget lagi, kalo aja kita dibebaskan dari beban finansial (menghidupi diri dan keluarga), tekanan dari orang-orang sekitar, tingkat pendidikan, kecerdasan, atau jabatan, dorongan gaya hidup di medsos, keberuntungan, atau hal-hal lainnya yang sering dibuat-buat seseorang untuk dijadikan alasan, kita ingin berada dimana sih sekarang? Mau menjalani hidup dengan bekerja atau berkarya dibidang apa? Ingin menggambarkan diri sendiri menjadi orang yang seperti apa? Ingin menjalani rutinitas sehari-hari yang bagaimana?

Salah Satu Stasiun kereta di Vienna, Austria


Saya penasaran aja, pernah denger engga sih keluh kesah orang (saya juga kadang), misal:
"lu sih enak pinter, coba gue kaya lu"
"pengen sih studi lanjut, tapi anakku sudah dua"
"Enak ya kerjanya jalan-jalan, keliling dunia dan dibayar lagi. Gak kaya saya dikantor terus sepanjang tahun"
Dan ada ribuan alasan orang didunia buat nyampein soal kegagalannya, soal engga jadinya mereka mengejar apa yang mereka idam-idamkan.

Padahal kita, manusia, anugrah terbesarnya adalah punya pilihan dan bener-bener berhak untuk memilih sesuai apa yang kita inginkan. Anugrah ini bahkan ga Allah berikan ke malaikat. Katakanlah seorang pegawai migas yang sudah hidup mapan berumur 29 tahun masih berfikir soal masa lalunya yang ingin menjadi pemain tenis nasional. Kemudian sering mengeluh tentang mimpi yang ga pernah diraihnya hingga menghiasi harinya dengan khayalan soal menjadi pemain tenis dan menjadikannya tidak bahagia diantara "kesuksesan" yang disaksikan orang terhadapnya. Padahal, bisa kan berhenti bekerja hari ini terus besok langsung ikut tim tenis? Apakah nanti bisa jadi pemain timnas? mungkin iya mungkin engga. tapi dia sudah menjalani hidup seperti apa yang ada difikirannya kan? menjalani mimpinya setiap hari.

"Loh tapi ga bisa gitu, ga boleh egois. kan selaian diri sendiri ada adik, kakak, ortu, istri, anak yang juga harus kita fikirin nasibnya kalo kita ubah hidup kita secara radikal cuma gara-gara embel-embel "mengejar impian". kalo menurut saya kita tetep bisa memilih apa yang mau kita pilih. Adapun sisanya adalah konsekuensi terhadap pilihan itu. Konsekuensi yang harus kita terima hasil dari keputusan yang kita ambil tersebut. Kita setiap hari ambil keputusan kok, cuma mungkin kecil-kecil jadi engga kerasa.

Hal yang mau saya sampaikan adalah, Jangan sampe kita mengutuki kehidupan ini gara-gara merasa sudah engga punya lagi pilihan, ngerasa udah kaya gini takdir dari sononya. kemudian yang akhirnya bikin kita engga bersyukur dan stress. "saya stress nih kerja di Jakarta" loh siapa yang suruh kerja di Jakarta? Kita punya kok pilihan, selalu punya pilihan tapi semuanya berkonsekuensi. Mungkin aja, kalo kita memang merasa memilih kehidupan yang sekarang dan menerima konsekuensi-konsekuensi yang dihadapi didepan sebagai pilihan. kita bisa lebih menikmati perjalanan ini dan ga perlu ada khayalan-khayalan dan penyesalain lain diluar hidup kita yang engga kita lakuin, karena kita sudah memilih. Stop mikirin hal-hal yang ga kita jalanin itu. Kemudian menjalani hidup dengan menyadari bahwa kehidupan adalah sebuah pilihan bukan keharusan. 100% memilih dengan segala konsekuensinya.

Apakah saya harus belajar setiap hari? Engga, saya memilih untuk beajar setiap hari.

Comments

Popular posts from this blog

STASIUN

akihir-akhir ini

Tentang Malam